Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Makalah Sarana dan Prasarana Fix....

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan untuk melaksanakan pengurusan dan pengaturan agar semua sarana dan prasarana selalu dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan secara berdayaguna dan berhasil guna dalam mencapai tujuanpendidikan.
Pemeliharaan merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang, sehingga barang tersebut kondisinya baik dan siap digunakan. Pemeliharaan mencakup segala daya upaya yang terus menerus untuk mengusahakan agar peralatan tersebut tetap dalam keadaan baik. Pemeliharaan dimulai daripemakaian barang, yaitu dengan cara hati-hati dalam menggunakannya. Pemeliharaan yang bersifat khusus harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai keahlian sesuai dengan jenis barang yang dimaksud.
Penyimpanan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan untuk melaksanakan prosesmenampung/mewadahi hasil pengadaan barang-barang milik sekolah demi keamanannya, baik yang belum maupun yang didistribusikan. Kegiatan penyimpanan meliputi menerima barang, menyimpan barang dan mendistribusikan barang.Agar terkoordinir data tentang sarana dan prasarana yang dimiliki sebuah organisasi khususnya pada hal ini sarana dan prasarana pendidikan.
Adanya bukti tertulis terhadap sebuah kegiatan tentang pengelolaan barang sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
v  Memudahkan dalam pengecekan barang.
v  Memudahkan dalam pengawasan.
v  Memudahkan ketika mengadakan kegiatan mutasi/penghapusan barang.

B.     Batasan Masalah
Untuk mempersingkat  pembahasan, dibatasi masalah pada beberapa hal berikut ini :
1.         Pengertian Pemeliharaan Penyimpanan Sarana Prasarana sekolah
2.         Tujuan dariPemeliharaan dan Penyimpanan Sarana Prasarana sekolah
3.   Fungsi dari Pemeliharaan dan Penyimpanan Sarana Prasarana sekolah
4.         Laporan Pemeliharaandan Penyimpanan Sarana dan Prasarana  yang diajukan
5.         Cara Pengkodean BarangPemeliharaandan Penyimpanan Sarana dan Prasarana

C.    Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahpadabeberapahalberikutini :
1.    Apa Pengertian dari Pemeliharaan dan Penyimpanan Sarana dan Prasarana?
2.    Jelaskan Tujuan dari Pemeliharaandan Penyimpanan Sarana dan Prasarana?
3.    Bagaimana Fungsi Pemeliharaandan Penyimpanan Sarana dan Prasarana?
4.    Bagaimana cara membuat Laporan Pemeliharaandan Penyimpanan Sarana dan Prasarana yang akan diajukan?
5.    Bagaimana cara Pengkodean BarangPemeliharaandan Penyimpanan Sarana dan Prasarana?

D.    Tujuan
Adapun tujuan yang diharapkan dapat diketahui dari pembahasan makalah ini adalah
1.         Pembaca dapat mengetahui pengertian Pemeliharaan dan Penyimpanan Sarana dan Prasarana
2.         Pembaca dapat mengetahui tujuan dari Pemeliharaan dan Penyimpanan Sarana dan Prasarana
3.         Pembaca dapat mengetahui fungsi dari Pemeliharaan dan Penyimpanan Sarana dan Prasarana
4.       Pembaca dapat mengetahui cara membuat laporan Pemeliharaan dan Penyimpanan Sarana dan Prasarana
5.         Pembaca dapat mengetahui cara pengkodean barang Pemeliharaan dan Penyimpanan Sarana dan Prasarana

E.     Metode Penyusunan
Metode yang digunakandalampenyusunanmakalahiniadalah observasi yaitusuatu metode penyusunan karya ilmiah yang dilakukan dengan cara menganalisis dan mewawancara serta survey ke lokasi. Selain itu, penyusun menggunakan pendekatan kualitatif dalam membuat makalah mengenai data dan informasi yang ditelaah.


BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian  Administrasi Inventarisasi Pemeliharaan dan Penyimpanan Sarana Prasarana Sekolah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud dan tujuan; alat. Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses (usaha, pembangunan, proyek). Antara sarana dan prasarana tidak terlalu jauh berbeda, karena keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Untuk membedakannya, sarana lebih ditujukan kepada benda-benda yang bergerak, sedangkan prasarana lebih ditujukan untuk benda-benda yang tidak bergerak.
Pengadaan semua sarana dan prasarana kantor memerlukan biaya tinggi, termasuk semua kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaannya. Untuk itu diperlukan kegiatan inventarisasi. Inventarisasi sarana dan prasarana kantor adalah semua kegiatan dan usaha untuk memperoleh data yang diperlukan mengenai sarana dan prasarana yang dimiliki. Secara singkat inventarisasi dapat diartikan sebagai pencatatan terhadap sarana dan prasarana. Inventarisasi yang dilakukan di setiap organisasi bisa saja berbeda, namun pada dasarnya semua dilakukan dengan tujuan yang sama.
Pemeliharaan Sarana dan Prasarana merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang, sehingga barang tersebut kondisinya baik dan siap digunakan. Pemeliharaan mencakup segala daya upaya yang terus menerus untuk mengusahakan agar peralatan tersebut tetap dalam keadaan baik. Pemeliharaan dimulai dari pemakaian barang, yaitu dengan cara hati-hati dalam menggunakannya. Pemeliharaan yang bersifat khusus harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai keahlian sesuai dengan jenis barang yang dimaksud.
Penyimpanan sarana dan prasarana adalah kegiatan yang dilakukan oleh satuan kerja atau petugas gudang untuk menampung hasil pengadaan barang atau bahan kantor baik berasal dari pembelian, instansi lain, atau diperoleh dari bantuan.

B.   Macam-Macam Inventarisasi Pemeliharaan dan Penyimpanan Sarana Prasarana Sekolah

1)    Macam-macam Inventarisasi Sarana dan Prasarana
Fungsi dari penempatan barang inventaris ini adalah untuk penyelenggaraan pengurusan pembagian atau pelayanan barang secara tepat, cepat, dan teratur sesuai dengan kebutuhan. Kegiatan penempatan adalah menyelenggarakan penyaluran barang kepada unit kerja, menyelenggarakan administrasi penempatan dengan tertib dan rapi.
Untuk memudahkan inventarisasi dibutuhkan buku pencatatan inventarisasi barang, macam-macamnya yaitu :
a.       Buku induk barang inventaris adalah buku yang digunakan untuk mencatat semua barang inventaris yang sudah atau pernah dimiliki oleh suatu kantor. Buku ini digunakan untuk mencatat barang yang tidak habis pakai.
b.      Buku golongan barang inventaris adalah buku pembantu yang digunakan untuk mencatat barang-barang inventaris menurut golongan yang ditentukan, masing-masing berdasarkan klasifikasi kode barang yang telah ditentukan. Buku ini digunakan untuk mencatat barang yang tidak habis pakai.
c.       Buku catatan barang non inventaris adalah buku yang digunakan untuk mencatat semua barang non inventaris (barang yang belum diketahui statusnya) yang dimiliki oleh suatu kantor. Buku ini digunakan untuk mencatat barang yang habis pakai.
2)    Macam-Macam Pemeliharaan Sarana dan Prasarana
Ada beberapa macam pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah ditinjau dari sifat maupun waktunya. Ditinjau dari sifatnya ada empat macam pemeliharaan sarana prasarana pendidikan di sekolah antara lain:
a.       Pemeliharaan perlengkapan bersifat pengecekan
b.      Pemeliharaan yang bersifat pencegahan
c.       Pemeliharaan yang bersifat perbaikan ringan
d.      Perbaikan berat.
Sedangkan jika ditinjau dari waktu pemeliharaannya ada dua macam pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah antara lain:
a.       Pemeliharaan sehari-hari, seperti menyapu, mengepel lantai, membersihkan pintu
b.      Pemeliharaan berkala, misalnya pengontrolan genting, pengapuran tembok.
Jenis-Jenis Pemeliharaan Sarana dan Prasarana dapat dibedakan menjadi 3 macam,adalah sebagai berikut :

a.      Pemeliharaan Terencana
Pemeliharaan terencana adalah jenis perawatan yang diprogramkan, diorganisir, dijadwal, dianggarkan, dan dilaksanakan sesuai dengan rencana, serta dilakukan monitoring dan evaluasi (Sunarto 2002:4). Perawatan terencana dibedakan menjadi dua, yakni perawatan terencana yang bersifat pencegahan atau perawatan preventif, dan perawatan terencana yang bersifat korektif.
b.      Pemeliharaan Preventif
Pemeliharaan yang bersifat pencegahan, adalah pemeliharaan  sarana dan prasarana pendidikan yang secara sadar dilakukan melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, serta monitoring dengan tujuan untuk mencegah terjadinya gangguan kemacetan atau kerusakan fasilitas atau peralatan sekolah. Pemeliharaan preventif adalah perawatan yang dilakukan pada selang waktu tertentu dan pelaksanaannya dilakukan secara rutin dengan beberapa kriteria yang ditentukan sebelumnya dengan tujuan untuk mencegah dan mengurangi kemungkinan suatu komponen tidak memenuhi kondisi normal (Depdikbud, 1999:2).

c.       Pemeliharaan Korektif
Pemeliharaan yang bersifat memperbaiki akan berkaitan dengan deteksi kerusakan, penentuan lokasi kerusakan, dan perbaikan atau penggantian bagian yang rusak.
1.      Tahapan pemeliharaan korektif
·      Deteksi:
a.    Cek fungsi
b.    Cek kinerja
c.    Perbandingkan dengan spesifikasi alat/sistem
·      Menentukan Lokasi:
a.    Cek fungsi tiap blok (bagian dari sistem)
b.    Cek komponen pada blok yang tidak bekerja dengan baik
·      Perbaikan:
a.    Perbaiki atau ganti komponen yang rusak dengan yang baru

C.   Tujuan Inventarisasi Pemeliharaan dan Penyimpanan Sarana dan Prasarana Sekolah

1.      Tujuan Inventarisasi Sarana dan Prasarana
a.       Agar Peralatan tidak mudah hilang.
b.      Adanya Bukti secara tertulis terhadap Kegiatan Pengelolaan Barang sehingga dapatdipertanggungjawabkan.
c.       Memudahkan dalam Pengecekan Barang.
d.      Memudahkan dalam Pengawasan.
e.       Memudahkan ketika Mengadakan Kegiatan Mutasi/Penghapusan Barang.

2.      Tujuan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana
a.       Untuk mengoptimalkan usia pakai peralatan. Hal ini sangat penting terutama jika dilihat dari aspek biaya, karena untuk membeli suatu peralatan akan jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan merawat bagian dari peralatan tersebut
b.      Untuk menjamin kesiapan operasional peralatan untuk mendukung kelancaran pekerjaan sehingga diperoleh hasil yang optimal
c.       Untuk menjamin ketersediaan peralatan yang diperlukan melalui pencekkan secara rutin dan teratur
d.      Untuk menjamin keselamatan orang atau siswa yang menggunakan alat tersebut.

3.      Tujuan Penyimpanan Sarana dan Prasarana
a.       Agar barang tidak cepat rusak.
b.      Agar tidak terjadi kehilangan barang.
c.       Agar barang tersusun rapi sehingga mudah ditemukan apabila barang tersebut dicari.
d.      Memudahkan dalam pengawasan.
e.       Memudahkan dalam analisis barang.




D.   Fungsi Inventarisasi Pemeliharaan dan Penyimpanan Sarana dan Prasarana Sekolah

1.      Fungsi Inventarisasi Sarana dan Prasarana
a.    Mencatat, menghimpun data asset yang dikuasai perusahaan/organisasi.
b.    Menyiapkan dan menyediakan bahan laporan pertanggungjawaban atas penguasaan dan pengelolaan asset perusahaan/organisasi.
c.    Menyiapkan dan menyediakan bahan acuan untuk pengawasan asset perusahaan/organisasi.
d.   Menyediakan informasi mengenai asset perusahaan/organisasi.

2.      Fungsi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana
a.       Menghindari Adanya Kerusakan terhadap suatu barang
b.      Memudahkan dalam Pengontrolan suatu barang sehingga menghindar dari Kehilangan
c.       Mempertahankan agar barang atau bahan kantor tetap dalam keadaan baik atau siap untuk dipakai.

3.      Fungsi Penyimpanan Sarana dan Prasarana
a.       Memudahkan dalam analisis barang
b.      Memudahkan dalam pengawasan
c.       Memudahkan ketika mengadakan kegiatan mutasi/penghapusan barang.

E.   Pelaporan Sarana dan Prasarana

Laporan sarana dan prasarana kantor adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk melaporkan keadaan sarana dan prasarana kantor, baik persediaan, mutasi, maupun keadaan fisik dari sarana dan prasarana tersebut dalam periode waktu tertentu (triwulan, semester, atau setahun).

1).  Fungsi laporan sarana dan prasarana kantor adalah :
a.    Sebagai bahan pertanggung jawaban.
b.    Sebagai pengendali persediaan.
c.    Memberikan informasi tentang barang yang tersedia dan mutasi barang.
d.   Sebagai dasar atau bahan dalam pengambilan keputusan pimpinan.
Dalam menyampaikan laporan secara tertulis kepada pimpinan,sebaiknya dilampiri dengan beberapa bukti atau catatan pendukung antara lain :
1.      Bukti penerimaan barang.
2.      Bukti pembelian barang. 
3.      Bukti pengeluaran barang.
4.      Kartu barang 
5.      Kartu persediaan.
6.      Daftar inventaris.
7.      Daftar rekapitulasi barang inventaris.

2).  Teknik pembuatan laporan disusun sebagai berikut :
a.    Memeriksa barang.
b.    Menghitung persediaan barang awal tahun anggaran.
c.    Menghitung penerimaan dan pengadaan barang.
d.   Menghitung pengeluaran barang.
e.    Menghitung sisa persediaan.
f.     Mencatat mutasi barang.
g.    Melaporkan kepada atasan atau pimpinan.


a.      
F.    Pengkodean Sarana dan Prasarana

Pada dasarnya maksud dan tujuan mengadakan penggolongan barang ialah agar terdapat cara yang cukup mudah dan efisien untuk mencatat dan sekaligus untuk mencari dan menemukan kembali barang tertentu,baik secara fisik maupun melalui daftar catatan ataupun dalam ingatan orang.dengan pengolahan kode barang akan dapat ditemukan dengan barang-barang yang dicari.
Sandi atau kode yang dipergunakan melambangkan nama atau uraian kelompok/jenis barang adalah berbentuk angka bilangan (numerik) yang tersusun menurut pola tertentu,agar mudah diingat dan dikenali,serta memberi petunjuk mengenai formulir nama jenis barang tertentu.di samping itu pula,penyusunan angka nomor kode itu terdiri dari tiga dan empat angka,yang dipisahkan oleh sebuah tanda titik.Angka pertama dari susunan tiga didepan adalah untuk menyatakan jenis formulir yang digunakan. Dua angka berikutnya yaitu yang berada sebelum tanda titik,merupakan sandi pokok untuk kelompok barang menurut ketentuan didalam masing-masing formulir.

















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pemeliharaan adalah kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang. Jadi, dalam sarana dan prasana membutuhkan kegiatan pemeliharaan sehingga sarana dan prasarana tersebut kondisinya selalu dalam keadaan baik dan siap digunakan. Selain pemeliharaan, sarana dan prasarana juga membutuhkan kegiatan penyimpanan sehingga terjaga keamanannya.

B.     Saran
Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari banyak kekurangan, karena keterbatasan waktu. Dalam makalah ini penulis berharap agar pembaca bisa menambahkan isi dari kekurangan makalah ini agar makalah ini menjadi sempurna dan dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran.

c.  Kesan
      Dalam mengerjakan tugas observasi dan pembuatan makalah ini kami sangat senang karena kami dapat menambah wawasan lebih luas, dapat berkomunikasi baik secara langsung dengan narasumber, serta dapat meningkatkan kerjasama dengan kelompok dalam hal pembuatan makalah ini.




LAMPIRAN
Pertanyaan-pertanyaan dari kelompok lain sebagai berikut:
A.    Pertanyaan

1.      Kelompok 1
-          Alicia Jihan : “Siapa yang membuat Laporan Inventarisasi, bagaimana cara menindaklanjuti?

2.      Kelompok 2
-          Dinda Uswatul ummah : “kendala apa saja yang sering terjadi dilaporannya,bagaimana cara penanganannya sesuai dengan dilaporannya?

3.      Kelompok 3
-          Hasri Arsyadhana : “menurut kelompok kalian,cara apa yang harus dilakukan agar tujuan pemeliharaan berjalan dengan baik?

4.      Kelompok 4
-          Lalan Ardi : “didalam tujuan laporan sarana dan prasarana kantor,apakah KIR dan alat pembantu termaksuk kedalam contoh bentuk laporan,jika ya siapa penanggung jawabnya?

5.      Kelompok 5
-          Meitrisya Puspa Kencana : “Hal apa saja yang menjadi mutasi barang ?

6.      Kelompok 7
-          Nurul Aisyah : “dalam tujuan penyimpanan,hal-hal laporan apa saja yang harus diperhatikan agar tujuan penyimpanan tercapai ?

7.      Kelompok 8
-          Sanih Ayu : “apabila kerusakan tingkat berat, bagaimana cara penanganannya sesuai dengan prosedur di Kaprog AN?




B.   Jawaban

1.      Kelompok 1
-          Alicia  : Cara mengembangkan minat dan kemampuan membaca para siswa yaitu pertama kita harus membuat perpustakaan menjadi tempat yang menarik dan nyaman untuk belajar, seperti yang sudah kelompok penyaji sarankan, perpustakaan perlu membuat taman baca disekolah agar minat siswa untuk membaca semakin meningkat .

2.      Kelompok 2
-          Dinda :Prosedur pengembalian jika buku yang dipinjamkan hilang, yaitu dengan cara pertama siswa/i lapor kepada petugas perpustakaan jika bukunya hilang, kemudian siswa/i harus menggantinya dengan cara memfotokopi buku yang hilang tersebut . Sistem computer mengapa dihapus ? sebenarnya system computer bukan dihapuskan, tetapi tidak berjalan, karena mengingat membutuhkan dana yang cukup besar sehingga kurangnya orang untuk mengelola system computer tersebut. Untuk perpustakaan yang baru nantinya akan diadakan kembali system computer.
-           
3.      Kelompok 3
-          Hasri : yang mengurus prosedur perencanaan di perpustakaan adalah Pak Bais, selaku pengurus perpustakaan .

4.      Kelompok 4
-          Lalan : Buku perpustakaan untuk pelajaran tidak ada penyeleksian, karena sekolah mengajukan buku yang diperlukan kepada pemerintah, dan pemerintah akan memberikan buku yang diperlukan , kecuali buku-buku sumbangan dari siswa/i itu tentunya diseleksi terlebih dahulu , agar tidak ada unsur yang menyesatkan.

5.      Kelompok 5
-          Meistrisya : Peran Kepala Sekolah dalam perpustakaan adalah adalah lebih bertanggungjawab atas pemeliharaan gedung (sarana dan prasarana) sekolah. Jadi, peran Kepala Sekolah yaitu melakukan observasi secara teratur dan kontinyu terhadap kondisi ruangan yang ada didalam ruang belajar (perpustakaan). Dan segera mengadakan perbaikan bila terdapat kekurangan.

6.      Kelompok 7
-          Nurul : 1. Ruangan yang luas, alasannya agar dapat menampung lebih banyak siswa. 2. Adanya AC, alasannya dengan udara yang sejuk dapat membuat si pembaca lebih merasa nyaman. 3. Memperbanyak rak buku, alasannya agar buku yang terdapat di perpustakaan tersusun dengan rapih dan tidak berantakan, taman baca alasannya agar siswa tidak suntuk dan lebih nyaman apabila suasana baca nya lebih indah.
7.      Kelompok 8
-          Sanih : Bisa untuk menaruh tas, handphone, dan barang-barang  yang dibawa lainnya.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makalah Teladan Para Tokoh Nasional

                  Makalah Teladan Para Tokoh Nasional
“Untuk memenuhi Tugas Kelompok Sejarah Indonesia”

Disusun Oleh XII AP3        
1.Alicia Jihan Alifah            
2.Dinda Uswatul Ummah              
3.Fifi Febriani Imawati        
4.Khairul Ahyar          
5.Meutia Jasmine
6.Naufa Fitrianingrum
7.Shelin
8.Sinta Anggita Damayanti 

SMK NEGERI 2 CIKARANG BARAT
JL. Fatahillah No. 1A Cikarang Barat 17530, Telp (021) 8900578
Website : smkn2cikbar.sch.id
2016



Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Karena rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan dan dapat menyusun makalah tentang “Teladan Para Tokoh Persatuan” Untuk memenuhi tugas mata pelajaran Sejarah Indonesia.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik membangun yangg ditunjukan demi kesempurnan makalah ini. semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi semua pihak.
Bekasi, 04 Agustus 2016
                                                                                         
                                                                            

Penulis



DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..........................................................................................................     1

KATA PENGANTAR........................................................................................................     2
DAFTAR ISI......................................................................................................................     3

BAB I Pendahuluan
A. .
Latar Belakang..............................................................................................................   4
1.1 Batasan Masalah
............................................................................................................   5
1.2.
Rumusan Masalah..........................................................................................................   5
1.3.
Tujuan ...........................................................................................................................   5

BAB II
 Pembahasan
2.1 
Teladan Para Tokoh Persatuan Papua...........................................................................     6  
2.2 
Para Raja yang Berkorban Untuk Bangsa....................................................................     8
2.3  
Mewujudkan Integrasi Melalui Seni dan Sastra...........................................................     10
2.4  Perempuan Pejuang......................................................................................................    11


BAB III PENUTUP

 Kesimpulan.........................................................................................................................     14

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................     15





BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Tahukah kalian bahwa jumlah tokoh yang telah diangkat oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional hingga tahun 2014 ini adalah 159 orang? Tidak sembarangan orang memang dapat menyandang secara resmi gelar pahlawan nasional.Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi.salah satu diantaranya adalah tokoh tersebut telah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan dalam bidang lainnya untuk mencapai/merebut/mempertahankan/mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Beberapa tokoh dibawah ini merupakan para pahlawan nasional yang memiliki jasa dalam mewujudkan integrasi bangsa Indonesia.
Untuk pahlawan dari daerah, kita akan mengambil para pejuang yang berasal dari wilayah paling timur Indonesia,yaitu Papua. tiga tokoh yang dibahas yaitu:Frans Kaisiepo,Silas Papare dan Marthen Indey.
Keteladanan para tokoh pahlawan nasional Indonesia dalam bentuk pengorbanan jabatan dan materi dari mereka yang berstatus raja. Sultan Hamengkubuwono IX dan Sultan Syarif Kasim II adalah dua tokoh nasional yang mengedepankan keindonesiaan daripada kekuasaan atas kerajaan sah yang mereka pimpin, tanpa menghitung untung-ruginya.
Selain tokoh-tokoh yang berkiprah dalam bidang politik dan perjuangan bersenjata, tokoh pahlawan yang akan mengambil hikmah keteladanan tokoh yang berjuang dibidang seni, yaitu Ismail Marzuki sebagai pencipta lagu-lagu nasional.



1          Batasan Masalah
Untuk mempersingkat  pembahasan, dibatasi masalah pada beberapa hal berikut ini :
1.    Macam-macam tokoh pahlawan nasional persatuan
3.    Keteladanan para tokoh pahlawan nasional Indonesia yang Berkorban Untuk Bangsa
4.    Keteladanan tokoh yang berjuang dibidang seni
5.    Perempuan Berjuang
1.2            Rumusan Masalah
 Adapun rumusan masalah pada beberapa hal berikut ini :
1.    Sebutkan Macam-macam tokoh pahlawan nasional persatuan ?
2.    Bagaimanna Peran dari Para Tokoh Persatuan Papua ?
3.    Mengapa Belanda mengancam Sultan Hamengkubuwono IX ?
4.    Mengapa Ismail Marzuki tidak ingin bekerjasama dengan Belanda ?
5.    Mengapa Pada masa pendudukan Jepang Opu Daeng Risaju tidak banyak melakukan kegiatan di PSII ?
1.3       Tujuan
Adapun tujuan yang diharapkan dapat diketahui dari pembahasan makalah ini adalah
1.      Pembaca dapat mengetahui Macam-macam tokoh pahlawan nasional persatuan
2.      Pembaca dapat mengetahui Peranan dari dari Para Tokoh Persatuan Papua
3.      Pembaca dapat mengetahui Sebab akibat mengapa Belanda mengancam Sultan Hamengkubuwono IX
4.      Pembaca dapat mengetahui Sebab – akibat mengapa Ismail Marzuki tidak ingin bekerjasama dengan Belanda
5.      Pembaca dapat mengetahui Sebab – akibat Mengapa Pada masa pendudukan Jepang Opu Daeng Risaju tidak banyak melakukan kegiatan di PSII.




BAB II
PEMBAHASAN

         
    a). Frans Kaisiepo (1921-1979)

Frans Kaisiepo lahir di Wardo, Biak, Papua, 10 Oktober 1912 . Beliau adalah pahlawan nasional Indonesia dari Papua yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura. Untuk mengenang jasanya, namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara Frans Kaisiepo di Biak. Frans Kaisiepo dan rakyat Biak kemudian terus mengadakan perlawanan menentang Belanda di Irian. Saat Konferensi Meja Bundar (KMB), Frans menolak diangkat sebagai anggota Delegasi Belanda. Akibatnya, ia dihukum dan diasingkan ke daerah terpencil. Beliau diangkat menjadi Pahlawan Nasional dengan SK Pres: 077 /TK/ 1993 bertanggal 14- 9-1993.

Beliau turut berperan dalam pendirian Partai Indonesia Merdeka (PIM) pada tanggal 10 Mei 1946 dan dalam tahun yang sama, Kaisiepo menjadi anggota delegasi Papua dalam konferensi Malino di Sulawesi Selatan.Dalam konferensi ini, Frans Kaisiepo juga menentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) karena NIT tidak memasukkan Papua ke dalamnya. Ia lalu mengusulkan agar Papua dimasukkan ke dalam Keresidenan Sulawesi Utara. Beliau  menyebut Papua (Nederlands Nieuw Guinea) dengan nama Irian yang konon diambil dari bahasa Biak dan berarti daerah panas. Namun kata Irian tersebut malah diberinya pengertian lain : “Ikut Republik Indonesia Anti Nederlands. Tahun 1948 Kaisiepo ikut berperan dalam merancang pemberontakan rakyat Biak melawan pemerintah kolonial Belanda. Setahun setelahnya, ia menolak menjadi ketua delegasi Nederlands Nieuw Guinea ke Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Tahun 1961 ia mendirikan partai politik Irian Sebagian Indonesia (ISI) yang menuntut penyatuan Nederlans Nieuw Guinea ke negara Republik Indonesia.Pada akhir tahun 1960-an, Kaisiepo berupaya agar Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) bisa dimenangkan oleh masyarakat yang ingin Papua bergabung ke Indonesia.



b). Silas Papare (1918-1978).

Silas Papare lahir di Serui, Papua, 18 Desember 1918 adalah seorang pejuang penyatuan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Namanya diabadikan menjadi salah satu Kapal Perang Korvet kelas Parchim TNI AL KRI Silas Papare. Monumen Silas Papare juga didirikan di dekat pantai dan pelabuhan laut Serui. Nama Beliau  juga diabadikan sebagai nama Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIPOL) Silas Papare, yang berada di Jalan Diponegoro. Sedangkan di kota Nabire, nama Silas Papare dikenang dalam wujud nama jalan. Silas Papare membentuk Komite Indonesia Merdeka (KIM) hanya sekitar sebulan setelah Indonesia merdeka. Tujuan KIM yang dibentuk pada bulan September 1945 ini adalah untuk menghimpun kekuatan dan mengatur gerak langkah perjuangan dalam membela dan mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Bulan Desember tahun yang sama, Silas Papare bersama Marthen Indey dianggap mempengaruhi Batalyon Papua bentukan Sekutu untuk memberontak terhadap Belanda. Silas Papare mendirikan Partai Kemerdekaaan Irian, partai ini kemudian diundang pemerintah RI ke Yogyakarta. Silas Papare bersama dengan teman-temannya membentuk Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta. Sepanjang tahun 1950-an ia berusaha keras agar Papua menjadi bagian dari Republik Indonesia. Tahun 1962 ia mewakili Irian Barat duduk sebagai anggota delegasi RI dalam Perundingan New York antara Indonesia-Belanda dalam upaya penyelesaian masalah Papua. Berdasarkan “New York Agreement” ini, Belanda akhirnya setuju untuk mengembalikan Papua ke Indonesia.

c). Marthen Indey (1912–1986)

Marthen Indey (ahir di Doromena, 14 Maret 1912 merupakan putra Papua yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan Nasional Indonesia berdasar SK Presiden No.077 /TK/ 1993 tgl. 14 September 1993 bersama dengan dua putra Papua lainnya yaitu Frans Kaisiepo dan Silas Papare. sebelum Jepang masuk ke Indonesia adalah seorang anggota polisi Hindia Belanda. Namun jabatan ini bukan berarti melunturkan sikap nasionalismenya. Keindonesiaan yang ia miliki justru semakin tumbuh tatkala ia kerap berinteraksi dengan tahanan politik Indonesia yang dibuang Belanda ke Papua.

Antara tahun 1945-1947, Indey masih menjadi pegawai pemerintah Belanda dengan jabatan sebagai Kepala Distrik. Meski demikian, bersama-sama kaum nasionalis di Papua, secara sembunyi-sembunyi ia malah menyiapkan pemberontakan. Tetapi sekali lagi, pemberontakan ini gagal dilaksanakan.Sejak tahun 1946 Marthen Indey menjadi Ketua Partai Indonesia Merdeka (PIM). Ia lalu memimpin sebuah aksi protes yang didukung delegasi 12 Kepala Suku terhadap keinginan Belanda yang ingin memisahkan Papua dari Indonesia.Tahun 1962, saat Marthen Indey menyusun kekuatan gerilya sambil menunggu kedatangan tentara Indonesia yang akan diterjunkan ke Papua dalam rangka operasi Trikora. Beliau diangkat sebagai anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) sejak tahun 1963 hingga 1968. Dan juga diangkat sebagai kontrolir diperbantukan pada Residen Jayapura dan berpangkat Mayor Tituler selama dua puluh tahun.Saat perang usai, ia berangkat ke New York untuk memperjuangkan masuknya Papua ke wilayah Indonesia, di PBB hingga akhirnya Papua (Irian) benar-benar menjadi bagian Republik Indonesia.

           
Saat Indonesia merdeka, di Indonesia, masih ada kerajaan-kerajaan yang berdaulat. Hebatnya, para penguasa kerajaan-kerajaan tersebut lebih memilih untuk meleburkan kerajaan mereka ke dalam negara Republik Indonesia. Hal ini bisa terjadi tak lain karena dalam diri para raja dan rakyat di daerah mereka telah tertanam dengan begitu kuat rasa kebangsaan Indonesia.
                  
Meski demikian tak semua raja mau bergabung dengan negara kesatuan RI. Sultan Hamid II dari Pontianak misalnya, bahkan pada tahun 1950-an lebih memilih berontak hingga turut serta dalam rencana pembunuhan terhadap beberapa tokoh dan pejabat di Jakarta, meski akhirnya mengalami kegagalan.

a)     Sultan Hamengkubuwono IX

Pada tahun 1940, ketika Sultan Hamengkubuwono IX dinobatkan menjadi raja Yogjakarta, ia dengan tegas menunjukkan sikap nasionalismenya. Sikapnya ini kemudian diperkuat manakala tidak sampai 3 minggu setelah proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan, Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan Kerajaan Yogjakarta adalah bagian dari negara Republik Indonesia.
Dimulai pada tanggal 19 Agustus, Sultan mengirim telegram ucapan selamat kepada Soekarno-Hatta atas terbentuknya Republik Indonesia dan terpilihnya Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Tanggal 20 Agustus besoknya, melalui telegram kembali, Sultan dengan tegas menyatakan berdiri di belakang Presiden dan Wakil Presiden terpilih. Dan akhirnya pada tanggal 5 September 1945, Sultan Hamengkubuwono IX memberikan amanat bahwa:
1.      Ngayogyakarta Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah daerah istimewa dari Republik Indonesia.
2.      Segala kekuasaan dalam negeri Ngayogyakarta Hadiningrat dan urusan pemerintahan berada di tangan Hamengkubuwono IX.
3.      Hubungan antara Ngayogyakarta Hadiningrat dengan pemerintah RI bersifat langsung dan Sultan Hamengkubuwono IX bertanggung jawab kepada Presiden RI.
Sejak awal kemerdekaan, Sultan memberikan banyak fasilitas bagi pemerintah RI yang baru terbentuk untuk menjalankan roda pemerintahan. Markas TKR dan ibukota RI misalnya, pernah berada di Yogjakarta atas saran Sultan. Bantuan logistik dan perlindungan bagi kesatuan-kesatuan TNI tatkala perang kemerdekaan berlangsung, juga ia berikan.

Sultan Hamengkubuwono IX juga pernah menolak tawaran Belanda yang akan menjadikannya raja seluruh Jawa setelah agresi militer Belanda II berlangsung. Belanda rupanya ingin memisahkan Sultan yang memiliki pengaruh besar itu dengan Republik. Bukan saja bujukan, Belanda bahkan juga sampai mengancam Sultan. Namun Sultan Hamengkubuwono IX malah menghadapi ancaman tersebut dengan berani.

b). Sultan Syarif Kasim II (1893-1968).
                Sultan Syarif Kasim II dinobatkan menjadi raja Siak Indrapura pada tahun 1915 ketika berusia 21 tahun. Ia memiliki sikap bahwa kerajaan Siak berkedudukan sejajar dengan Belanda. Berbagai kebijakan yang ia lakukan pun kerap bertentangan dengan keinginan Belanda. Ketika berita proklamasi kemerdekaan Indonesia sampai ke Siak, Sultan Syarif Kasim II segera mengirim surat kepada Soekarno-Hatta, menyatakan kesetiaan dan dukungan terhadap pemerintah RI serta menyerahkan harta senilai 13 juta gulden untuk membantu perjuangan RI.
                                                     
Tindak lanjut berikutnya, Sultan Syarif Kasim II membentuk Komite Nasional Indonesia di Siak, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Barisan Pemuda Republik. Ia juga segera mengadakan rapat umum di istana serta mengibarkan bendera Merah-Putih, dan mengajak raja-raja di Sumatera Timur lainnya agar turut memihak republik.

Saat revolusi kemerdekaan pecah, Sultan aktif mensuplai bahan makanan untuk para laskar. Ia juga kembali menyerahkan kembali 30 % harta kekayaannya berupa emas kepada Presiden Soekarno di Yogyakarta bagi kepentingan perjuangan. Ketika Van Mook, Gubernur Jenderal de facto Hindia Belanda, mengangkatnya sebagai “Sultan Boneka”Belanda, Sultan Syarif Kasim II tentu saja menolak. Ia tetap memilih bergabung dengan pemerintah Republik Indonesia. Atas jasanya tersebut, Sultan Syarif Kasim II dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia.

2.3  Mewujudkan Integrasi Melalui Seni dan Sastra

Ismail Marzuki (1914 – 1958). Dilahirkan di Jakarta, Ismail Marzuki memang berasal dari keluarga seniman. Di usia 17 tahun ia berhasil mengarang lagu pertamanya, berjudul “O Sarinah”. Tahun 1936, Ismail Marzuki masuk perkumpulan musik Lief Java dan berkesempatan mengisi siaran musik di radio. Pada saat inilah ia mulai menjauhkan diri dari lagu-lagu barat untuk kemudian menciptakan lagu-lagu sendiri. Lagu-lagu yang diciptakan Ismail Marzuki itu sangat diwarnai oleh semangat kecintaannya terhadap tanah air. Latar belakang keluarga, pendidikan dan pergaulannyalah yang menanamkan perasaan senasib dan sepenanggungan terhadap penderitaan bangsanya. ketika RRI dikuasai Belanda pada tahun 1947 misalnya, Ismail Marzuki yang sebelumnya aktif dalam orkes radio memutuskan keluar karena tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Ketika RRI kembali diambil alih republik, ia baru mau kembali bekerja di sana.
Lagu-lagu Ismail Marzuki yang sarat dengan nilai-nilai perjuangan yang menggugah rasa kecintaan terhadap tanah air dan bangsa, antara lain Rayuan Pulau Kelapa (1944), Halo-Halo Bandung (1946) yang diciptakan ketika terjadi peristiwa Bandung Lautan Api, Selendang Sutera (1946) yang diciptakan pada saat revolusi kemerdekaan untuk membangkitkan semangat juang pada waktu itu dan Sepasang Mata Bola (1946) yang menggambarkan harapan rakyat untuk merdeka. Meskipun memiliki fisik yang tidak terlalu sehat karena memiliki penyakit TBC, Ismail Marzuki tetap bersemangat untuk terus berjuang melalui seni. Hal ini menunjukkan betapa rasa cinta pada tanah air begitu tertanam kuat dalam dirinya.

2.4  Perempuan Pejuang

Opu Daeng Risaju “Kalau hanya karena adanya darah bangsawan mengalir dalam tubuhku sehingga saya harus meninggalkan partaiku dan berhenti melakukan gerakanku, irislah dadaku dan keluarkanlah darah bangsawan itu dari dalam tubuhku, supaya datu dan hadat tidak terhina kalau saya diperlakukan tidak sepantasnya.”(Opu Daeng Risaju, Ketua PSII Palopo 1930) Itulah penggalan kalimat yang diucapkan Opu Daeng Risaju,seorang tokoh pejuang perempuan yang menjadi pelopor gerakan Partai Sarikat Islam yang menentang kolonialisme Belanda waktu itu, ketika Datu Luwu Andi Kambo membujuknya dengan berkata “Sebenarnya tidak ada kepentingan kami mencampuri urusanmu, selain karena dalam tubuhmu mengalir darah “kedatuan,” sehingga kalau engkau diperlakukan tidak sesuai dengan martabat kebangsawananmu, kami dan para anggota Dewan Hadat pun turut terhina. Karena itu, kasihanilah kami, tinggalkanlah partaimu itu!”(Mustari Busra, hal 133).
Namun Opu Daeng Risaju, rela menanggalkan gelar kebangsawanannya serta harus dijebloskan kedalam penjara selama 3 bulan oleh Belanda dan harus bercerai dengan suaminya yang tidak bisa menerima aktivitasnya. Semangat perlawanannya untuk melihat rakyatnya keluar dari cengkraman penjajahan membuat dia rela mengorbankan dirinya. Nama kecil Opu Daeng Risaju adalah Famajjah. Ia dilahirkan di Palopo pada tahun 1880, dari hasil perkawinan antara Opu Daeng Mawellu dengan Muhammad Abdullah to Barengseng. Nama Opu menunjukkan gelar kebangsawanan di kerajaan Luwu. Dengan demikian Opu Daeng Risaju merupakan keturunan dekat dari keluarga Kerajaan Luwu. Sejak kecil, Opu Daeng Risaju tidak pernah memasuki pendidikan Barat (Sekolah Umum), walaupun ia keluarga bangsawan. Boleh dikatakan, Opu Daeng Risaju adalah seorang yang “buta huruf” latin, dia dapat membaca dengan cara belajar sendiri yang dibimbing oleh saudaranya yang pernah mengikuti sekolah umum. Setelah dewasa Famajjah kemudian dinikahkan dengan H. Muhammad Daud, seorang ulama yang pernah bermukim di Mekkah. Opu Daeng Risaju mulai aktif di organisasi Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII) melalui perkenalannya dengan H. Muhammad Yahya, seorang pedagang asal Sulawesi Selatan yang pernah lama bermukim di Pulau Jawa. H. Muhammad Yahya sendiri mendirikan Cabang PSII di Pare-Pare. Ketika pulang ke Palopo, Opu Daeng Risaju mendirikan cabang PSII di Palopo. PSII cabang Palopo resmi dibentuk pada tanggal 14 januari 1930 melalui suatu rapat akbar yang bertempat di Pasar Lama Palopo (sekarang Jalan Landau). Kegiatan Opu Daeng Risaju didengar oleh controleur afdeling Masamba (Malangke merupakan daerah afdeling Masamba). Controleur afdeling Masamba kemudian mendatangi kediaman Opu Daeng Risaju dan menuduh Opu Daeng Risaju melakukan tindakan menghasut rakyat atau menyebarkan kebencian di kalangan rakyat untuk membangkang terhadap pemerintah. Atas tuduhan tersebut, pemerintah kolonial Belanda menjatuhkan hukuman penjara kepada Opu Daeng Risaju selama 13 bulan. Hukuman penjara tersebut ternyata tidak membuat jera bagi Opu Daeng Risaju. Setelah keluar dari penjara Opu Daeng Risaju semakin aktif dalam menyebarkan PSII. Hukuman penjara tersebut ternyata tidak membuat jera bagi Opu Daeng Risaju. Setelah keluar dari penjara Opu Daeng Risaju semakin aktif dalam menyebarkan PSII. Walaupun sudah mendapat tekanan yang sangat berat baik dari pihak kerajaan dan pemerintah kolonial Belanda, Opu Daeng Risaju tidak menghentikan aktivitasnya. Dia mengikuti kegiatan dan perkembangan PSII baik di daerahnya maupun di tingkat nasional. Pada tahun 1933 Opu Daeng Risaju dengan biaya sendiri berangkat ke Jawa untuk mengikuti kegiatan Kongres PSII. Dia berangkat ke Jawa dengan biaya sendiri dengan cara menjual kekayaan yang ia miliki. Kedatangan Opu Daeng Risaju ke Jawa, ternyata menimbulkan sikap tidak senang dari pihak kerajaan. Opu Daeng Risaju kembali dipanggil oleh pihak kerajaan.
Dia dianggap telah melakukan pelanggaran dengan melakukan kegiatan politik. Oleh anggota Dewan Hadat yang pro-Belanda, Opu Daeng Risaju dihadapkan pada pengadilan adat dan Opu Daeng Risaju dianggap melanggar hukum (Majulakkai Pabbatang). Anggota Dewan Hadat yang proBelanda menuntut agar Opu Daeng Risaju dijatuhi hukuman dibuang atau diselong. Akan tetapi Opu Balirante yang pernah membela Opu Daeng Risaju, menolak usul tersebut. Akhirnya Opu Daeng Risaju dijatuhi hukuman penjara selama empat belas bulan pada tahun 1934. Pada masa pendudukan Jepang Opu Daeng Risaju tidak banyak melakukan kegiatan di PSII. Hal ini dikarenakan adanya larangan dari pemerintah pendudukan Jepang terhadap kegiatan politik Organisasi Pergerakan Kebangsaan, termasuk di dalamnya PSII. Opu Daeng Risaju kembali aktif pada masa revolusi. Pada masa revolusi di Luwu terjadi pemberontakan yang digerakkan oleh pemuda sebagai sikap penolakan terhadap kedatangan NICA di Sulawesi Selatan yang berkeinginan kembali menjajah Indonesia. Ia banyak melakukan mobilisasi terhadap pemuda dan memberikan doktrin perjuangan kepada pemuda. Tindakan Opu Daeng Risaju ini membuat NICA berupaya untuk menangkapnya.
Opu Daeng Risaju ditangkap dalam persembunyiannya. Kemudian ia dibawa ke Watampone dengan cara berjalan kaki sepanjang 40 km. Opu Daeng Risaju ditahan di penjara Bone dalam satu bulan tanpa diadili kemudian dipindahkan ke penjara Sengkang dan dari sini dibawa ke Bajo. Selama di penjara Opu Daeng mengalami penyiksaan yang kemudian berdampak pada pendengarannya, ia menjadi tuli seumur hidup. Setelah pengakuan kedaulatan RI tahun 1949, Opu Daeng Risaju pindah ke Pare-Pare mengikuti anaknya Haji Abdul Kadir Daud yang waktu itu bertugas di ParePare. Sejak tahun 1950 Opu Daeng Risaju tidak aktif lagi di PSII, ia hanya menjadi sesepuh dari organisasi itu. Pada tanggal 10 Februari 1964, Opu Daeng Risaju meninggal dunia. Beliau dimakamkan di pekuburan raja-raja Lokkoe di Palopo.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Beberapa peristiwa konflik yang terjadi pada masa kini,harus kita lihat sebagai potensi disintegrasi bangsa yang dapat merusak persatuan negeri. Maka ada baiknya bila kita belajar dari perjalanan sejarah nasional kita, yang juga pernah diwarnai dengan aneka proses konflik dengan segala akibat yang merugikan,baik jiwa,fisik,materi,psikis dan penderitaan rakyat. Bagaimanapun, salah satu guna sejarah adalah dapat memberi hikmah atau pelajaran bagi kehidupan.

Selain dari peristiwa sejarah, kita dapat juga mengambil hikmah dari teladan para tokoh sejarah. Diantara mereka adalah para pahlawan nasional yang berjuang untuk persatuan bangsa dengan tidak hanya menggunakan senjata, tetapi juga melalui karya berupa seni,lukisan,musik,sastra atau ilmu pengetahuan.



DAFTAR PUSTAKA










  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KEWIRAUSAHAAN by NAUFA FITRIANINGRUM

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HOPELESS Pengkolan (@smkn2cikbar) Tahun Ajaran 2015/2016

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS